Keunikan dunia membuatku pingin hidup abadi.Tapi itu gak mungkin
karna semua yang hidup pasti akan mati.Tapi aku bersyukur.Dengan hidup
yg terbatas umur ini,aku bisa memahami arti sebenarnya "hidup".Ditemani
kawan kawan,keluarga,dan semua orang di sekelilingku, aku menorehkan
memori memori di dalam buku perjalanan hidupku.
Masa
indah,sedih,terpuruk,dan terhormat menjadi inti dalam cerita pejalanan
ini.Dibumbui marah,bahagia,muak,bosan,sabar,bingung yang bercampur jadi
satu menjadikan hidupku ini berharga untuk dinikmati.
Semoga pada akhir perjalananku,aku menemukan kebenaran mutlak dari pertanyaan pertanyaan yang tak bisa kujawab saat ini.
Oleh Allah lah aku diciptakan dan kepada Allah pula aku akan musnah.
...
Tampilkan postingan dengan label Rosyi's notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosyi's notes. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Februari 2013
Hadapi dengan senyuman.
Hidup tak selamanya manis. Jauh berbeda dari crita dongeng Putri
Tidur yg pada akhirnya hidup bahagia selamanya. Bertentangan dengan film
Doraemon yg bisa mewujudkan semua keinginan.
Hidup itu kadang di atas kadang di bawah. Kadang senang kadang sedih. Kadang kaya kadang miskin. Terus berputar seiring waktu tanpa siapapun tau apa yg akan terjadi.
Hanya dengan akal sehat dibumbui sedikit perasaan lah yg bisa menjalani semua dengan aman. Tapi saat otak membeku dan semua serasa meninggalkan kita, putus asa lah ujung nya.
Mencoba tuk mengerti semua tapi mustahil tuk dilakukan.
Tetap menjadi diri sendiri walau apapun yg terjadi.
Hadapi dengan senyuman dan trima segala konsekuensinya sekalipun pahit.
Hidup itu kadang di atas kadang di bawah. Kadang senang kadang sedih. Kadang kaya kadang miskin. Terus berputar seiring waktu tanpa siapapun tau apa yg akan terjadi.
Hanya dengan akal sehat dibumbui sedikit perasaan lah yg bisa menjalani semua dengan aman. Tapi saat otak membeku dan semua serasa meninggalkan kita, putus asa lah ujung nya.
Mencoba tuk mengerti semua tapi mustahil tuk dilakukan.
Tetap menjadi diri sendiri walau apapun yg terjadi.
Hadapi dengan senyuman dan trima segala konsekuensinya sekalipun pahit.
fuck it all
Locked by the seal of pride and shame. Play pretend maintain
self-esteem. But the truth is in it a coward. Fear of the words. The
motivation of the round is considered as discordant voices. Only the
wind is blowing for a while. But the truth is the storm that wiped out
the real identity. Hiding behind the darkness. The dark side over the
heart. Without sound without action. Only the feeling that talking.
pesan seorang teman
Pesan seorang teman lama padaku :
"Menjalani hidup itu kalo bisa kita lah yg menentukan arus.
Melawan arus itu wajar selama kita kuat menahan nya. Dalam proses itu, sebisa mungkin jadi lah dirimu yg sebenar benar nya. Pendapat orang lain tentang kita jangan terlalu digubris. Selama kita merasa yg kita lakukan itu benar, lanjutkan sampai selesai. Tapi juga jangan terlalu terlena dengan diri sendiri yg bisa menjerumuskan kita ke dalam keegoisan yg sia sia.Kita tak kan tau hasilnya jika belum dicoba. Tapi ada satu syarat penting yg harus dipenuhi jika kita mengambil jalan ini. Apapun hasilnya, apapun yg terjadi, harus tetap menerima konsekuensi dari apa yg telah kita lakukan."
Makasih pada temanku yg memberiku inspirasi. Sampai sekarang, pedoman itulah yg aku pegang.
"Menjalani hidup itu kalo bisa kita lah yg menentukan arus.
Melawan arus itu wajar selama kita kuat menahan nya. Dalam proses itu, sebisa mungkin jadi lah dirimu yg sebenar benar nya. Pendapat orang lain tentang kita jangan terlalu digubris. Selama kita merasa yg kita lakukan itu benar, lanjutkan sampai selesai. Tapi juga jangan terlalu terlena dengan diri sendiri yg bisa menjerumuskan kita ke dalam keegoisan yg sia sia.Kita tak kan tau hasilnya jika belum dicoba. Tapi ada satu syarat penting yg harus dipenuhi jika kita mengambil jalan ini. Apapun hasilnya, apapun yg terjadi, harus tetap menerima konsekuensi dari apa yg telah kita lakukan."
Makasih pada temanku yg memberiku inspirasi. Sampai sekarang, pedoman itulah yg aku pegang.
..........
Kita bisa makan enak.
Kita bisa tidur nyenyak di kasur empuk.
Kita punya pakaian yg pantas.
Kita memiliki keluarga yg sangat menyayangi (sekaligus mengkhawatirkan kita).
Kita punya teman2 yg siap membantu dalam keadaan apapun.
Kita punya penghasilan (bisa dibilang begitulah).
Kita bisa kuliah.
Kita bisa punya barang2 mewah dengan jerih payah sendiri (walaupun harus sabar dikit).
Singkat cerita, kita memiliki hidup yg layak dengan fasilitas yg cukup.
Tapi apakah mereka juga bisa merasakan apa yg kita rasakan?
Atau apakah kita bisa merasakan apa yg mereka rasakan?
Sering terpikir olehku apakah kita layak menyombongkan diri?
Apakah kemampuan kita saat ini patut untuk dibanggakan?
Jika "ya", coba lah minta pujian dari orang lain.
Tak usah jauh2. Orang terdekat saja.
Beranikah?????????
Aku sendiri belum berani dan mungkin tidak akan pernah berani.
Bukan pada orang asing melainkan pada orang terdekatku yaitu orang tua ku.
Bahkan sering aku merasa malu saat pujian keluar dari mulut polos mereka.
Pujian itu seperti pisau yg langsung menancap di dadaku tepat di jantung.
Kebanggaan apa yg bisa kupersembahkan pada mereka?
Pujian apa yg aku harapkan pada mereka?
Aku lebih senang mendengar nasehat bahkan cercaan mereka.
Itu tanda bahwa mereka mencoba untuk mengingatkan agar tidak lupa pada hakekat kita.
Hakekat sebagai manusia yg terbatas.
Bahwa kita bukan apa2 di hadapan mereka melainkan akan selalu menjadi anak kecil yg perlu bimbingan.
Jangan tanya tentang Tuhan.
Karna kita hanya seperti partikel atom dijagat raya ini dihadapan-Nya.
Bagaimana dengan kalian??????????
Kita bisa tidur nyenyak di kasur empuk.
Kita punya pakaian yg pantas.
Kita memiliki keluarga yg sangat menyayangi (sekaligus mengkhawatirkan kita).
Kita punya teman2 yg siap membantu dalam keadaan apapun.
Kita punya penghasilan (bisa dibilang begitulah).
Kita bisa kuliah.
Kita bisa punya barang2 mewah dengan jerih payah sendiri (walaupun harus sabar dikit).
Singkat cerita, kita memiliki hidup yg layak dengan fasilitas yg cukup.
Tapi apakah mereka juga bisa merasakan apa yg kita rasakan?
Atau apakah kita bisa merasakan apa yg mereka rasakan?
Sering terpikir olehku apakah kita layak menyombongkan diri?
Apakah kemampuan kita saat ini patut untuk dibanggakan?
Jika "ya", coba lah minta pujian dari orang lain.
Tak usah jauh2. Orang terdekat saja.
Beranikah?????????
Aku sendiri belum berani dan mungkin tidak akan pernah berani.
Bukan pada orang asing melainkan pada orang terdekatku yaitu orang tua ku.
Bahkan sering aku merasa malu saat pujian keluar dari mulut polos mereka.
Pujian itu seperti pisau yg langsung menancap di dadaku tepat di jantung.
Kebanggaan apa yg bisa kupersembahkan pada mereka?
Pujian apa yg aku harapkan pada mereka?
Aku lebih senang mendengar nasehat bahkan cercaan mereka.
Itu tanda bahwa mereka mencoba untuk mengingatkan agar tidak lupa pada hakekat kita.
Hakekat sebagai manusia yg terbatas.
Bahwa kita bukan apa2 di hadapan mereka melainkan akan selalu menjadi anak kecil yg perlu bimbingan.
Jangan tanya tentang Tuhan.
Karna kita hanya seperti partikel atom dijagat raya ini dihadapan-Nya.
Bagaimana dengan kalian??????????
Langganan:
Postingan (Atom)